Gadis kecil itu bernama, Hanum Irvana Mahesa Putri. Tapi saat beranjak remaja, ia lebih suka dipanggil Hanum. Bukan mengikuti nama artis atau kebanyakan orang terkenal. Tapi ia menganggap bahwa "Hanum" memiliki makna arti dari Langit sore. itulah sebabnya dia sebagai penikmat senja, selain itu dia juga menyukai hujan. Setiap orang memiliki alasan tersendiri atas apa yang mereka suka dan tidak suka. Termasuk hanum, dalam hening merindu.
Hanum, seorang yang berjiwa bebas. ia selalu ingin melakukan perjalanan melangkah menyebrangi lautan samudera. bukan karena atas nama permintaan siapapun. lebih karena ia menuliskannya sedari dimasa silam sebelum ia berjalan dengan dia, kamu ataupun mereka.
... aku bermimpi, terbang tinggi mewujudkan banyak mimpi yang telah tertuliskan, ujarnya diam.
_________________________________
Hai Hanum, begitulah orang sering menyapa. gadis yang tumbuh dari bayang - bayang pilu masa lalu kedua orangtuanya lebih tepatnya sebagai anak brokenhome. aku tinggal bersama kakek dan nenek dari ayahku serta bersama ibuku. kami tinggal di sebuah gubuk kecil sudut desa. aku suka alam dan keheningan, pagiku diwarnai dengan kicauan burung, hamparan hijaunya sawah diladang serta pancaran sinar matahari yang terik. terlepas latar belakang sebagai anak brokenhome meski begitu bukan berarti aku menjadi anak yang pemurung. orang yang akan mengenalku, akan tau bahwa hanum adalah seorang gadis periang, mandiri, dan berani.
Aku menjadi manusia yang bebas sejak kecil. tidak ada kemarahan ibu atau ayah. apalagi untuk sekedar mandi hujan dan main di sungai. ibuku sibuk bekerja pagi hingga larut malam sehingga ia tidak pernah tau tumbuh kembang anaknya, sedangkan nenekku sibuk dengan urusannya karena diantara cucu nya yang lain aku bukanlah cucu kesayangannya entah apa yang menjadi penyebab perihal itu, jadi dia tidak pernah peduli dengan kehidupanku. Namun, ada seseorang yang senantiasa mengkhawatirkan aku, siapa lagi kalau bukan kakek. aku bahagia, dan dia adalah laki - laki pertama yang akan selalu aku cintai. kakek mengajarkan banyak hal, apalagi perihal tanam-tuai dalam kehidupan. aku ingin selalu berdoa ketika aku terbangun memastikan bahwa kakek masih dibumi.
Suatu malam, aku dan ibu duduk di atap rumah. Rumah kami tidak ada gentingnya. Ayah yang arsitek merancangnya seperti rooftop gedung. Di atap ini ada sebuah bangku kayu yang terbuat dari kayu dan meja. Dulu kami sering duduk bersama menikmati malam sambil bercengkerama, bersenda gurau penuh canda dan tawa
Aku masih ingat waktu-waktu itu, kala ayah dan ibu masih bersama. Mereka belum berpisah seperti hari ini. Malam ini. Malam yang sunyi karena aku sudah jarang melihat ibu tertawa lepas. Bahkan terkadang aku iba melihat pelupuk mata yang selalu sendu. Kadang aku ingin membahas tentang kemungkinan ayah dan ibu bisa rujuk kembali. Nyatanya itu bukan perkara yang mudah lagi. Entah apa yang menjadi titik permasalahannya.
Saat ini menjelang usia matang, aku pun belum memutuskan meletakkan cinta meski beberapa kali laki-laki datang untuk menawarkan dirinya. Apa yang terjadi dalam keluargaku mungkin menjadi mimpi buruk yang terus menerus menghantui. Bahkan terlintas aku takut menikah.
Aku tidak pernah melihat ayah dan ibu bertengkar sebelumnya, namun semenjak malam itu, keadaan rumahku begitu mencekam, hari-hari diwarnai dengan pertengkaran dan sampai akhirnya kini sepi dan sunyi, tidak pernah mendapat penjelasan dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi sehingga mereka berpisah. Aku tidak ingin menanyakan itu lebih jauh karena khawatir menyakiti perasaan ibu.
Sejak ayah memutuskan pergi dari rumah. aku tak pernah bertemu dengannya. Entahlah ayahku pergi, menghilang begitu saja tanpa pesan dan kabar. Ingatanku melayang Ayah sebagai pecinta kopi dan sejak kepergiannya aku sangat membenci kopi. Kopi itu pahit, hitam dan gelap layaknya kehidupanku saat ini. Masihkah ada harapan terwujudnya mimpi-mimpi yang gila itu?
Mungkin aku tak lagi sebagai pembuat jejak mimpi. Hanya mampu memandangi coretan mimpi-mimpi yang menempel indah di dinding kamar. Mungkin ia harus segera dimasukkan kedalam kardus, diikat dan dikunci didalam lemari. Biarkan ia tergerus usang bersama waktu. Benarkah aku menyerah?
Aku tidak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi dalam hidupku. Di tengah teman-temanku yang hidup dalam keluarga harmonis, riang mempersiapkan pendidikan selanjutnya, pekerjaan atau sekedar membahas siapa kekasihnya bahkan mungkin pernikahan dengan pasangannya. Dan Aku adalah yang paling malas membahas hal itu. berusaha menyibukkan diri dengan hal ini dan itu. Dunia yang berbeda, dan jujur aku iri dengan mereka, menutup luka dengan meredam tangis kepiluan.
Benar, dalam sepi ku merindu.
Aku hanya merasa belum selesai terhadap urusanku. Kepercayaanku tentang laki-laki pun berkurang, bahkan kepada ayahku sendiri. Sekalipun aku tahu ayah tidak pernah marah. Tidak pernah sama sekali. Yang aku tahu hanya satu hal, ia berhasil membuat ibu jarang tertawa beberapa tahun ini. Aku khawatir tentang itu, sebenarnya aku khawatir tentang mereka.
Aku tidak tahu apakah aku percaya pada bualan romantisme cinta. Mungkin, teman-temanku tidak pernah melihat keadaan terbalik dari hidupnya. Hidup yang begitu aman, nyaman, tenteram dan diliputi cinta kadang membuat seseorang jadi lupa empati.
Entah bagaimana aku bisa percaya kepada laki-laki kalau seharusnya laki-laki yang kukenal sejak kecil, yang aku banggakan, yang menjadi cinta pertama adalah laki-laki yang berhasil membuat perempuan yang katanya dulu paling dicintainya menjadi tidak pernah lagi tertawa.
Hidup itu memang rumit dan egois. Bagaimana mungkin ada yang merasa tenang-tenang saja sementara di luar sana ada begitu banyak kesusahan, kehawatiran, dan segala hal lain yang tidak pernah mereka alami.
Saat orang-orang sibuk membicarakan cinta, masa depan dan pernikahan dalam sebuah keindahan dan romantika yang luar biasa. Aku ragu untuk bisa percaya. Mereka tidak pernah melihat sisi terbaliknya dan tidak pernah menjadi bagian dari sisi gelap itu.
Komentar
Posting Komentar