Suatu hari matahari tak muncul lagi di pagi hari, saat itu aku bertanya-tanya mengapa. Apa aku bangun kepagian? Atau langit sedang bersekongkol menggagalkan pertemuan?
Sudah pukul enam, matahari tak kunjung melihatkan tanda. Bahkan langit tetap hitam dengan bintang-bintangnya. Aku kembali duduk menunggu matahari.
Sudah pukul sepuluh dan langit tetap gelap penuh bintang. Apa matahari benar tidak akan pernah terbit lagi? Apa benar matahari sudah pergi? Lalu, aku menyadari bahwa kemarin aku tak sempat memerhatikan senja yang sangat cantik. Aku tidak tahu bila itu adalah senja terakhir.
Benar adanya bahwa kita akan merasai betapa berharganya sesuatu saat sesuatu itu hilang. Hari ini aku menyadari bahwa aku lupa memberikan salam kepada matahari kemarin sore. Aku sibuk dengan duniaku sendiri hingga lupa bahwa waktu sudah malam. Aku tidak sempat melihat senja itu tenggelam. Aku juga tidak sempat menikmati detik-detik perpisahan. Karena perpisahan itu benar tidak ada kata pamitan.
Aku lupa, bahwa setiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda. Aku juga lupa jika perasaan dan hati setiap individu juga berbeda. Aku pikir perpisahan yang terjadi adalah untuk kita saling berbenah diri, mempersiapkan sesuatu untuk tujuan yang sama. Ternyata aku salah. Sejak kita berdiam, tak berucap dan membisu. Aku pikir kau mengenalku. Lebih dari sekedar kenal. Tapi ternyata aku juga salah.
Aku duduk, sudah pukul dua belas. Seharusnya bumi ini menjadi semakin dingin tanpa matahari. Nyatanya, hatiku lebih dingin dari udara diluar sini. Aku menyadari sesuatu dan ini terlambat. Bahwa, segala sesuatu yang aku tunggu bisa saja tidak pernah datang. Segala sesuatu yang hilang, banyak yang di sesalkan. Bahkan aku tidak sempat mengambil kesempatan.
Aku kembali ke rumahku. Berjalan dengan langkah yang hati-hati. Karena matahari pergi, aku kembali ke rumahku. Rumah yang terbuat dari kenangan dan masa lalu. Kepergian selalu mengajarkan manusia tentang betapa berharganya waktu memiliki. —gun
Ibu, apakah kau tidak akan merindukanku?
Malam adalah duniaku, dengan penuh kesunyian, hanya terdengar suara jangkrik diluar. Sejak kakek pergi aku jarang sekali berbicara dengan ibu, semua kondisi terkendali dalam kebisuan, ibu pergi pagi pulang larut malam, dan mungkin aku sudah tertidur. Rumah yang sunyi semakin sunyi, kepergiannya mengubah duniaku, seakan tidak sama dengan yang lain. benar - benar dunia yang berbeda.
Hari ini adalah pengumuman kelulusan, dan seperti biasa aku selalu menjadi juara umum disekolah. teman -teman penuh tangis haru, karena setelah ini akan berpisah kita tidak akan satu sekolah lagi, semua akan berjalan sesuai dengan sekolah SMA favorit mereka. tapi bagiku, hal biasa saja. aku tidak sedih akan perpisahan itu, entahlah mengapa aku menjadi manusia yang berhati dingin seperti ini. aku hanya diam dan kadang sedikit tersenyum. mengabaikan semua keadaan yang terjadi.
Tangisan hanya untuk perpisahan yang haqiqi, ketika pertemuan masih bisa direncanakan mengapa harus ada tangis haru. mereka hanya mendramatisir keadaan, dan aku tidak peduli.
Setelah tiba dirumah, aku melihat ada selembar kertas formulir pendaftaran sekolah yang katanya menjadi salah satu sekolah menengah atas unggulan di kotaku, selain itu ada catatan untuk melengkapi segala persyaratan yang diminta, aku tau itu tulisan ibu.
Satu minggu kemudian, ada surat yang datang dari bapak kurir pos, tertera nama lengkapku. Dan didalamnya ada pengumuman yang menyatakan aku diterima disekolah tersebut. Aku tidak tau apakah ini yang terbaik atau tidak, tapi aku harus tetap melangkah. mulai besok aku harus menyiapkan semuanya, karena aku akan mencoba hal baru yaitu menjadi anak asrama.
Malam ini, aku semakin bingung, kenapa ibu membiarkankun untuk tinggal di asrama. Aku tidak akan bertanya mengapa padanya, mungkin ibu tidak ingin aku repotkan jika aku dirumah. Aku seperti diusir secara halus, meski rumah ini sunyi tapi banyak kenangan bersama lelaki hebatku, tentang senyumnya. Aku akan pergi, dan aku tidak tau kapan kembali.
x
Komentar
Posting Komentar