Omong kosong, bagaimana seseorang dapat memberikan pernyataan tanpa larut merasakan apa yang terjadi.
Kenyataannya duniaku penuh dengan kebisingan. Entah apa yang menjadi sebab-akibat.
Aku menaruh kebencian, aku menempatkan kemarahan, aku melontarkan setiap kesalahan hanya pada diri sendiri. Masihkah aku bersalah?
Siapa korban, siapa terdakwa, siapa tersangka jawabannya adalah aku.
Bahkan ditengah keramaian siapa kawan, siapa lawan. Itu hanyalah aku.
Ini duniaku menjadi teman dan musuh bagi diri sendiri?
Akankah aku diam, dan melakukan penerimaan setiap orang yang datang?
Tidak.
Sulit untuk mempercayai siapapun
Banyak ketakutan - ketakutan bahwa aku akan menjadi air mata bagi orang lain.
Cukup, aku merasakan setiap luka.
Menerima setiap hinaan.
Mendengar setiap kemarahan.
Sialnya, bahkan lontaran untuk sebuah kutukan.
Aku lelah untuk menjelaskan, aku tidak ingin memberikan luka pada siapapun.
Tanpa kata, tanpa kalimat, tanpa ucapan, tanpa tindakan.
Aku akan tetap diam. Bungkam dan mencoba mengelola rasa, ketika kenyataan takkan berpihak.
Dan takdir menyatakan bahwa kamu bukan milikku.
"Dunianya mungkin terlalu hening"
....
....
....
Seorang yang berjiwa bebas,
Dia ingin pergi melakukan perjalanan kesana, melangkah menyebrangi lautan samudera.
Bukan karena atas nama dan permintaan siapapun.
Lebih karena ia menuliskannya sedari dimasa silam sebelum ia pernah berjalan dengan dia, kamu ataupun mereka.
.... Aku bermimpi, terbang tinggi mewujudkan banyak mimpi yang telah tertuliskan, ujarnya diam.
Berdiri sendiri dengan keyakinan tanpa meletakkan harapan pada siapapun kecuali Dia.
Tak terkecuali, dia tidak membutuhkan sesama
Hanya saja keyakinannya lebih besar pada yang maha Kuasa ...
Tuhan yang tau bagaimana dalam sepi ku merindu.
Komentar
Posting Komentar