Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi diselembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri, oleh kesunyiannya sendiri, oleh ketabahannya sendiri, oleh tarikan dan hembusan nafasnya sendiri, oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri, oleh pengkhayatannya sendiri, tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal disebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin?
Putih ...(Panggilnya dari kejauhan dengan senyum penuh menerka kasih)
Memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta, tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.
Tak semua perasaan itu harus diungkapkan. Adakalanya dia disimpan dihati, diresapi sendiri.
Cukup bahagia hanya dengan melihat sosoknya.
Senyum terkembang saat melihat tawanya.
Lutut melemas saat dia menyapa.
Tak semua rasa cinta itu harus diumbar ke dunia.
Adakalanya dia dipupuk dengan sabar. Dinikmati saat mekar.
Tiba -tiba pikirku melayang tentang bagaimana jika yang membuatmu lemas adalah saat dia tertawa bahagia karena orang lain bukan karena dirimu? Saat rona merah pipinya bukan untukmu? Saat detak jantungnya yang berkejaran bukan karenamu? Saat sosoknya tidak ada lagi untuk menjadi pandangan matamu?
Saat itu tiba mungkin waktunya kamu menyesal karena terlalu asyik menikmati cinta dalan diam.
Ahsudahlah, baiknya memang harus pergi dengan rasa kehilangan yang sewajarnya. Karena sudah berani untuk datang kemudian kembali (lagi). Maka harus berani untuk pergi bahkan menghilang (selamanya).
Sebab hati bukanlah kayu.
Melainkan langit yang maha luas. Namun kamu harus tahu. Langitpun pernah menangis.
Putih ...(Panggilnya dari kejauhan dengan senyum penuh menerka kasih)
Memilih untuk diam, memperhatikan dari jauh atau mendoakan diam-diam. Setiap orang punya caranya sendiri untuk jatuh cinta, tanpa membaginya dengan orang yang dia cinta. Setiap orang juga punya cara sendiri untuk berbagi tawa dan menyembunyikan tangisnya sendiri.
Tak semua perasaan itu harus diungkapkan. Adakalanya dia disimpan dihati, diresapi sendiri.
Cukup bahagia hanya dengan melihat sosoknya.
Senyum terkembang saat melihat tawanya.
Lutut melemas saat dia menyapa.
Tak semua rasa cinta itu harus diumbar ke dunia.
Adakalanya dia dipupuk dengan sabar. Dinikmati saat mekar.
Tiba -tiba pikirku melayang tentang bagaimana jika yang membuatmu lemas adalah saat dia tertawa bahagia karena orang lain bukan karena dirimu? Saat rona merah pipinya bukan untukmu? Saat detak jantungnya yang berkejaran bukan karenamu? Saat sosoknya tidak ada lagi untuk menjadi pandangan matamu?
Saat itu tiba mungkin waktunya kamu menyesal karena terlalu asyik menikmati cinta dalan diam.
Ahsudahlah, baiknya memang harus pergi dengan rasa kehilangan yang sewajarnya. Karena sudah berani untuk datang kemudian kembali (lagi). Maka harus berani untuk pergi bahkan menghilang (selamanya).
Sebab hati bukanlah kayu.
Melainkan langit yang maha luas. Namun kamu harus tahu. Langitpun pernah menangis.
Ingin aku membalas sapa dan senyum yang diberikan, hanya saja tatapanku nanar dan dingin. hati dan logikaku berkecamuk hebat. oh dear ...
— Kau butuh hilang agar dicari, kau butuh pergi agar bisa pulang, kau butuh kesepian agar ditemani, kau butuh diam agar ditanya —
Hanya saja seringkali kita mengeluhkan tentang jalan yang harus kita tempuh demi apa yang kita cari. Seringkali kita setengah hati menjalani jalan yang sebenarnya mengantar kita pada apa yang kita cari, hanya saja kita tidak tahu tentang itu. Yang kita tahu hanya sebatas pada apa yang kita rasakan saat ini, pada apa yang terlihat dari terdengar kadang lebih sering menyakitkan juga melelahkan tapi kita tidak punya pilihan selain menjalani.
Bagaimana dengan cinta?
Ditengah kita mencintai seseorang dengan susah payah lalu muncul kesempatan dari orang lain yang mungkin lebih mudah. Apakah harus diambil?
Bukankah itu mungkin hanya untuk menguji keteguhan kita pada yang mula-mula kita pilih?
Kesempatan itu ujian yang mungkin paling tidak kita sadari, kesempatan-kesempatan "emas" yang datang, yang membuat kita menjadi ragu pada pilihan kita sebelumnya. Kesempatan yang membuat kita berpikir ulang tentang pilihan-pilihan kita sendiri. Menggoyang prioritas kita, menyelisih hati kita. Seandainya kesempatan itu kita ambil, mungkin kita akan menjadi orang yang terus terombang-ambing.
Kita akan belajar tentang keteguhan hati dari setiap kesempatan yang datang, tidak semua kesempatan yang datang itu harus diambil. Hati-hatilah mengenai kesempatan karena bisa jadi itu adalah ujian.
Menjadilah orang yang menepati janji kalau tidak bisa menepati minta maaflah dan buatlah pertanggungjawaban.
Menjadilah orang yang menepati waktu, sebab waktu tidak akan pernah bisa dikembalikan barang sedetik. Dan karena waktu, banyak manusia yang merugi, lebih banyak yang celaka.
Sayangnya, begitu banyak yang tidak menyadari dan menyia-nyiakannya, menunda membuat orang lain menunggu sesuatu yang tidak pasti dan aneka pembunuhan waktu yang sia-sia.
....
....
....
Maaf, aku membuatmu menunggu, mengabaikan apa yang dinamakan cinta. Jika aku bisa mengatakannya, aku akan berteriak kencang meluapkan perasaan yang selalu menggebu "Aku mencintaimu" ....
Komentar
Posting Komentar