Setelah sekian lama, tidak ada yang berbeda dari cerita ini. Masih saja sama, dan mungkin akan terus begitu. Melepaskan dan nantinya kembali jatuh pada sosok yang sama.
Dan untuk kesekian kalinya, kata-kata itu masih tertulis indah dihati, meski telah menjadi kenangan. Walaupun kembali salah menafsirkan akan sesuatu. Masihkah bertahan akan harapan itu?
Entahlah arus air begitu deras, namun tak berombak layaknya lautan.
Seharusnya ...
Bukankah kemarin adalah keputusan yang terbaik yang kita pilih bersama?
Diam dan hening dalam ruang waktu yang ada.
Tak ada kalimat yang terucap dalam perjalanan waktu. Siapa yang harus disalahkan? Jarak? Waktu? atau Tuhan? ...
Menyibukkan diri akan segala hal, yang artinya aku menghujam setiap rindu dan pikiran akan hadirnya yang dinamakan cinta. Bahkan tak pelak bersikap dingin akan keramah-tamahan sosok yang datang menghampiri. Hanya ada kata maaf, ini bukan bentuk keegoisan yang aku inginkan, terpaksa melakukan untuk sebuah prinsip dimana kita hidup hanya sekali, mati hanya sekali, menikah pun hanya sekali, begitupula dengan jatuh cinta.
Sedari lama aku telah dikecewakan, tapi apalah daya, masih saja bersikeras untuk menaruhnya dalam penantian. Kini untuk kesekian kalinya aku tahu, kamu meletakkan hati pada dia yang mungkin memang sosok yang lebih baik.
Membenci apa yang menjadi keputusanku, walau saat ini hal yang tidak mungkin untuk bersama, mungkin saja kamu sudah bersama yang lain. Bukan maksudku memaksakan kehendak, namun entahlah ada satu keyakinan dan sebuah pengharapan atas takdir yang tertuliskan bahwa "aku ingin menjadi alasanmu kembali, sejauh apapun kau pergi".
Memilih tidak mengatakannya, membiarkan menjadi misteri. Hanya Tuhan dan aku yang tau. Jelas aku terluka, kamu begitu hebat membuat goresan luka ini. Salahkan aku memilih dan menjatuhkan hati tetap pada orang yang sama yaitu kamu? Berulang kali aku terjatuh, menangis. Kisah ini begitu memprihatinkan. Namun aku tak mau menganggapnya ini kisah kesedihan.
Cinta adalah kebahagiaan, cinta adalah harga diri, cinta adalah rasionalitas sempurna, cinta adalah kesederhanaan, dan cinta adalah kamu.
Tak kuasa aku membenci, tak berdaya aku untuk memusuhi. Bukankah cinta senang melihat orang yang dicintainya bahagia. Terserah apa penfasiran tentang apa yang telah aku lakukan. Perjuangan, atau apa sajalah. Aku tak tahu apakah kamu sedang berusaha menyingkirkanku atau menungguku sampai saat yang tepat. Hanya saja yang kuinginkan adalah orang yang sama, di tempat yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda. Karena sesungguhnya aku sedang menunggu waktu yang tepat. Itupun jika apa yang di pikiran kita adalah sama.
Ini terakhir, berakhir namun bukanlah akhir. Jika aku tak pernah ada dalam keyakinanmu, pergilah sayang. Tapi jika sebaliknya, aku adalah sosok yang selalu ada dalam keyakinanmu. Maka, jangan biarkan wanita lain menyapa hatimu, bicaralah untuk meminta aku menantimu dan silahkan kamu pertanyakan kembali cinta yang ada. Tapi nanti, tidak saat ini, biarkan waktu yang membawamu, dan keyakinan yang menuntun kapan waktu tiba masanya. Bahwa kita dalam garis takdir yang sama. Percayalah, kelak akan tiba waktunya untuk kita bersama.
(sepucuk surat penantian yang terselipkan dalam rindu)
Salam hangat untuk cintaku,
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri didepan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya hati mana saja yang sudah kamu lewati untuk sampai disini.
Karena dengan lagkahmu, aku terbangun dari mati suri yang kunina-bobokan sendiri.
Aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang, aku berani sumpah, aku tenang.
Ini terakhir, berakhir namun bukanlah akhir. Jika aku tak pernah ada dalam keyakinanmu, pergilah sayang. Tapi jika sebaliknya, aku adalah sosok yang selalu ada dalam keyakinanmu. Maka, jangan biarkan wanita lain menyapa hatimu, bicaralah untuk meminta aku menantimu dan silahkan kamu pertanyakan kembali cinta yang ada. Tapi nanti, tidak saat ini, biarkan waktu yang membawamu, dan keyakinan yang menuntun kapan waktu tiba masanya. Bahwa kita dalam garis takdir yang sama. Percayalah, kelak akan tiba waktunya untuk kita bersama.
(sepucuk surat penantian yang terselipkan dalam rindu)
Salam hangat untuk cintaku,
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya kenapa baru sekarang.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan membuatmu berdiri didepan pintu terlalu lama.
Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya hati mana saja yang sudah kamu lewati untuk sampai disini.
Karena dengan lagkahmu, aku terbangun dari mati suri yang kunina-bobokan sendiri.
Aku lelah menjaga pintu.
Kalau kamu datang, aku berani sumpah, aku tenang.
Komentar
Posting Komentar