Sebenarnya tidak pernah ada alasan yang terucap tentang apa yang terjadi. Ketika kesetiaan diuji dengan meluluhkan segenap jiwa akan sebuah penghianatan. Itu bukan alasan tapi kepalsuan, kebenaran yang didustakan. Berkali-kali dilakukan, tapi tak pernah berhasil, yang pada akhirnya kembali harus mengakui merindukan sosok yang sama. Tidak tertuliskan lagi harapan. Terlambat!
Sebuah warna telah digoreskan bersama takdir yang menjadi pilihan. Kembali diam tanpa ada kata yang terucap, memahami setiap makna keheningan, menduga dalam kesunyian. Tidak beranjak kemanapun, hingga tiba waktunya, benar-benar menghilang. Dan semua terlukis apik dalam memori ingatan, tak tersentuh. Aku menyesal, ujarnya.
Gemercik suara hujan malam ini, menemani sendunya tangis. Aku membiarkan waktu membawaku. Alasannya hanya satu yaitu kamu. Kamu yang selalu menjadi penantiannku, kamu yang dulu memberikan kebahagian itu kemudian menghantam, meluluhlantahkan jiwa ini. Sakit yang mendera tak mampu meruntuhkan pondasi keyakinan, bahwa kamulah penantianku. Mungkin benar jatuh cinta adalah cara terbaik untuk bunuh diri. Aku tidak pernah tahu apakah ini sebuah kesalahan dan kebodohan karena aku memilih jatuh cinta padamu.
Apa yang harus dilakukan ketika senja semakin dekat untuk menggenapkan warnanya, berdiam diri menyambut kedatangannya atau terus kembali berlari menyingkirkan dan menyimpannya hanya sebagai cerita. Kenapa hati begitu sulit untuk dikalahkan, padahal berkali-kali mungkin hancur menjadi kepingan-kepingan, namun selalu saja ada keajaiban sehingga puing-puing kepingan yang hancur tiba-tiba saja kembali kokoh. Semua karena sebuah keyakinan dari hati tentang sebuah cinta yang sebenarnya, hati selalu meronta menahan rindu dalam sebuah penantian yang semu. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya, namun entah bagaimana dapat membuat kembali bertahan untuk terus menanti walupun rasa sesak, jeritan logika terus menolak apa yang menjadi keputusan hati.
Kalau saja jarak itu bisa dilipat hanya dengan sebuah doa, maka aku hendak mencari tahu doa seperti apa yang bisa melipat menjadi sedemikian rupa dekatnya. Perjalanan panjang selama ini sama sekali tidak bisa membuat jarak menjadi dekat. Sama sekali tidak membuat perubahan berarti. Tidak ada beda antara satu meter dan seribu kilometer bila diantara kita tetap bukan siapa-siapa. Dan kita masih berjalan sendiri-sendiri. Sekian lama berdiam diri dengan arogannya. Tak mampu membendung masing-masing perasaan yang ada, meskipun saling menyadari akan kehadiran rasa atas setiap rindu. Sudah terlampau jauh jarak yang ada, uluran tangan silahturahmi tidak terusikan. Baiklah, kita adalah orang asing.
Seharusnya dari dulu aku harus menyadarkan diri, bahwa aku bukanlah yang menjadi penantianmu.
... You splash rainbow to colour my life. But everyone knows, the rainbow will disappeare. I hope the rain will come soon to see the rainbow again, but that’s not you. Terimakasih atas warna pelangi yang pernah ada, aku pergi dan jangan pernah mengusik kehidupanku lagi.
Kalimat itu kembali dalam ingatan, dan itu menjadi awal mula dimana batasan serta jarak yang terbentang lebar antara kita. Sejak saat itu aku hanya mampu memandangmu dari kejauhan, tersenyum dari sudut kecil disana, mengagumimu dalam keheningan, mencintaimu dalam diam, mengharapkanmu dalam kesendirian, merindukanmu dalam gelap malam, tak akan aku mengusik kehidupan yang telah kamu pilih. Malam ini, khayalanku jauh kembali pada masa lalu bagaimana dulu kita bersenda gurau dengan riangnya. Aku merindukanmu.
Aku tidak pernah tahu bagaimana kamu berpikir tentangku? Yang aku tahu kamu menerka sesuatu yang salah dan waktu tak pernah berpihak sehingga aku tidak punya kesempatan untuk membuatmu mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dear, I wish I could tell you how much I love you. I love you, I love you very very much. When I close my eyes, I see you. When I open my eyes I want to see you. When you are not around, I feel your presence all around me. My eyes search for you every moment. You can call this love, madness or my heartbeat, it’s the same for me. Many people love, but no one can love the way I do because no one else has you. I cannot forget you. I don’t want to forget you. You are mine, I will love you all my life. I will love you till I die and even after that.
Akan ada alasan mengapa seseorang memilih untuk diam. Bukan karena dia berhenti mencintaimu, tapi karena sesuatu hal yang membuatnya memilih untuk menjauh. Kamu tahu, betapa sakitnya menahan rindu. Aku telah mendustainya selama ini, selama yang kamu inginkan. Aku dan kamu satu, duduk dalam satu senja. Hanya saja terpisahkan oleh yang dinamakan cinta itu sendiri. Alunan melodi dengan nada yang indah bernyanyi selaras bersama kepiluan hati. Bahkan sampai detik ini tak saling berkata apapun, hanya berdiam diri, membiarkan kesunyian yang berkata. Berharap kelak akan tiba waktunya untuk saling bicara. Iya nanti.
Seperti kutipan dalam salah satu bukunya bang tereliye yaitu dalam sajak yang dilupakan anak muda ...
Waktu, adalah ujian seberapa lama cinta bisa menunggu
Jarak, adalah ujian seberapa jauh cinta bisa melewati perjalanan
Perbedaan, adalah ujian seberapa pandai cinta bisa saling memahami
Kesempatan, adalah ujian seberapa teguh cinta bisa memutuskan
Masalah, adalah ujian seberapa tangguh cinta bisa bertahan
Dan terakhir Melepaskan, adalah ujian seberapa rindu cinta bisa kembali
Lagi, lagi dan lagi aku harus kembali menyadarkan diri bahwa kamu memang bukan untukku.
Aku selalu ingin melihat cinta dimatamu, yang ada hanya untukku. Hari ini aku melihat cinta itu, namun bukan untukku. Aku mundur atas apa yang dinamakan perjuangan. Bukan karena aku lelah, hanya saja aku tak ingin memaksakan apa yang mungkin telah menjadi takdir. Kamu lelaki hebat, bahagia pernah mengukir warna pelangi bersama.
Mungkin beberapa saat menjadi hal yang sulit bagiku. Tapi tak mengapa, ini menjadi konsekuensi apa yang menjadi pilihan dalam hidupku. Malam semakin larut, harapan itu tersimpan rapat bersama rahasia Tuhan. Tidak tahu kapan akan terungkap.
Komentar
Posting Komentar