Langsung ke konten utama

Kamuflase Narasi Juang

Sepotong episode tentang mereka yang kurindukan.

Bagaimana dapat melupakan, jika goresan kenangan yang tercipta begitu indah, membekas penuh makna pembelajaran dan pengalaman dalam kebersamaan.

Hallo, lama tak bersua, mungkin sedang menyibukkan diri dengan masing-masing peran dalam perjalanan hidup saat ini?

Malam ini, teringat setiap canda-tawa, suka-duka, nasihat yang tertulis dalam cerita,

Bersama mereka, aku punya keluarga

Bersama mereka, aku punya saudara

Bersama mereka, aku punya cerita

....

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 01.10 WIB. Sorak syukur dengan senyum sumringah.  Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Tiga jam bergelut dengan pertanggungjawaban, berakhir penuh keharuan. Kebersamaan malam ini akan menjadi cerita klasik penuh warna sampai nanti, sampai kelak kita tua. Kegundahan dan kegelisahan sebelumnya, telah terbayar sudah. Amanah satu periode yang lalu telah dipertanggungjawabkan akan segala sesuatunya. Terimakasih dan Maaf.

Semua akan menjadi pembelajaran dan pengalaman yang berarti.

Hampir 5 tahun sudah berlalu,

Ada perubahan berarti yang dirasakan dalam diri ini, terutama pada arah pemikiran. Mencoba memahami segala sesuatunya, ku menyadari satu hal yang hilang yaitu gelora semangat juang yang menggebu untuk mengusahakan keadilan dalam memanusiakan manusia ditengah regulasi birokrasi yang katanya demokrasi ini. Perbincangan mengenai konstelasi politik, baik melalui perspektif hukum, ekonomi, sosial, filsafat, teologi ataupun disiplin ilmu lainnya (tergantung disiplin ilmu mahasiswa nya darimana) adalah sebuah diskursus yang aku bisa betah berhari-hari di dalamnya. Namun aku pikir tak mungkin lagi untuk saat ini.

Rakyat linglung ditengah polemik negeri jenaka yang bingung. semua bungkam!

Iya, aku seorang koruptor di negeri jenaka ini. namun untuk memperkaya orang lain. Lucukan?

Dari idealis jadi realistis. Waktu habis porsinya termakan oleh urusan pekerjaan, secara langsung menciptakan pola pikir yang pragmatis. Minat baca dan rasa ingin tahu ku menurun. Begitupun ketika orang-orang membicarakan politik praktis yang hangat dalam satu semester terakhir ini, aku hanya tertawa kecil dan di dalam hati berkata “Peduli apa aku”. (kecuali ketika dibahas dari pijakan teori, kritik dan argumentasi yang relevan dan konstruktif aku masih mau menyimak).

Bukan sekedar barisan yang kurindu dari teman-temanku, melainkan semangat juang mereka untuk logika dan nurani yang bukan sekedar keadilan atas dasar hukum, ide kreatif mereka yang membangun. Hmm, aku sendiripun terjebak. Hal yang aku khawatirkan dulu sepertinya nyata terjadi saat ini. Hidup di alam pragmatis, tersedak oleh kesibukan duniawi, lenyap sudah ide dan gagasan besar yang dulu bersemayam bersama semangat di tengah rekan sejawat.

Maafkan diri ini, kita sama-sama telah memilih jalan sendiri-sendiri, tersentak ketika menyadari bahwa kita ini sangat kecil, atau dengan kata lain ‘belum besar’. Entahlah, mungkin ini siklusnya (mantan) mahasiswa. Tak ada niat berkhianat terhadap asa waktu itu. Mudah-mudahan mengecilkan skala kepentingan tidak serta merta membunuh kepedulian. Semoga saja.

Menangis sendu di kesunyian malam, mengumpulkan nyali untuk merapihkan niat dan tekad, menyadari bahwa aku sudah jauh melangkah, menina bobokan apa yang sebenarnya kusadari ingin kulakukan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I Choose You

Perjalanannya masih jauh, masih panjang. Banyak sekali yang patah. Banyak sekali yang gagal. Dan banyak sekali yang berakhir dengan “ya udahlah ... mau gimana lagi?”. Butuh banyak waktu untuk sembuh, ada banyak sekali keributan di kepala yang rasanya ingin dibagi sedikit saja dengan orang lain. Tapi rasanya ... lebih baik menyimpannya sendirian daripada membagikannya pada mereka yang tidak mau memahami keadaan. Mungkin nanti aku akan mencoba lebih membuka diri dan menulisakan harap lagi tapi tidak hari ini. Beberapa kegagalan juga perlu peratapan secukupnya, bukan?. Ahhhh sudah lama sekali deraian air mata ini tertahan dan kali ini aku menumpahkannya bersama derasnya air hujan. Do you need hug? What? Sontak suara dan rangkulan itu membuat aku tersadar dari lamunan panjang masa lalu, seraya membalikan diri, memandang bingung sosok dengan berwajah sendu yang berdiri tegap didepanku. Ternyata sedarilama dia memperhatikanku, hanya karena aku sedang asyik dengan duniaku, sehingga tidak...

goals, growing and glowing

Waktu terbaik untuk mengunjungi Polandia adalah Mei - September. bulan-bulan ini memiliki cuaca paling hangat dan lembap sepanjang tahun, dengan kemungkinan curah hujan yang meningkat pada bulan-bulan musim panas. Kemeriahan menjelang Natal adalah hiburan yang sempurna dari langit suram dan suhu dingin yang dibawa bulan Desember ke polandia. Pasar-pasar meriah menerangi alun-alun kota di seluruh negeri. Namun, Pasar Natal Barbican di Warsaw adalah yang paling menonjol. Dengan latar rotunda bata merah menyala, pasar ini penuh akan kios-kios yang menjual kerajinan tradisional, kue, dan wine rempah agar Anda tetap hangat saat menjelajah. Di Krakow, bulan Desember dimulai dengan Christmas Cribs, suatu kompetisi untuk mencari tahu siapa yang dapat membangun crèche Natal yang paling indah. Akan ada salju di mana-mana, jadi pastikan untuk membawa pakaian musim dingin yang paling hangat dan sepasang sepatu bot tahan air. Akan ada juga banyak pest...

Me, My Self and I

Alunan nada rintikan hujan malam ini memberikan ketenangan dengan lantunan melodinya yang begitu indah. Banyak orang yang bilang bahwa umur 20-29 tahun sebagai fase pembuktian. Fase dimana paling tidak ada dua life-crisis yang harus dilewati oleh setiap orang. Krisis setelah lulus dan mulai masuk ke dunia profesional dan krisis memutuskan untuk menikah dengan siapa. Ditengah ramainya dunia maya membahas kegalauan dan romantisme usia 20+, banyak yang lupa bahwa di tahap yang sama mereka harus berjuang membuktikan diri kepada dunia tentang siapa dia. Tentang peran apa yang dia ambil di masyarakat yang majemuk ini. Apakah dia menjadi sampah masyarakat, menjadi orang biasa, atau menjadi orang yang ahli? Selepas kita selesai sekolah yang sangat panjang, kurang lebih 16 tahun sejak masuk TK. Kita akan menyadari bahwa kita harus mengambil satu peran yang kemudian akan kita mainkan seumur hidup. Peran itu mungkin dulu pernah mengema menjadi cita-cita kita semasa kecil. Mainkanlah peran ...