Hidupnya begitu riuh, begitu ramai.
Pikirannya tidak pernah habis memikirkan banyak hal, hidupnya disibukkan oleh
begitu banyak pekerjaan. Seolah-olah waktunya habis untuk segala hal itu. Harus
menjadi berbeda, hidup dalam ekspektasi banyak orang. Hingga, setiap kali dia
kembali ke rumahnya yang sepi, ke kamarnya yang lebih sepi, ke hatinya yang
jauh lebih sepi. Dia hanya duduk, membuka beberapa lembar catatannya dan
menulis sesuatu yang tak pernah aku tahu apa isinya.
Selebihnya, dia merebahkan badannya dan memejamkan mata. Seolah-olah itulah ketenangan yang selama ini dia cari. Nyatanya bukan, pikirannya tetap riuh dengan pertanyaan, hatinya tetap khawatir dengan kemungkinan.
Selebihnya, dia merebahkan badannya dan memejamkan mata. Seolah-olah itulah ketenangan yang selama ini dia cari. Nyatanya bukan, pikirannya tetap riuh dengan pertanyaan, hatinya tetap khawatir dengan kemungkinan.
Dia memasang headset ditelinganya dan memutar lagu-lagu yang dia ciptakan sendiri. Dia buka kitab sucinya untuk mencari-cari sesuatu. Dia mencari ketenangan. Sedang dia sendiri tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa ketenangan yang dia maksud.
Di luar sana dia menenggelamkan diri dalam kegiatan, sibuk mendaftar ini dan itu, menjadi relawan ini dan itu, berharap bisa menemukan ketenangan itu di salah satu tempat yang dia datangi. Tapi, ternyata tidak demikian. Hatinya tetap tidak tenang. Bahkan, ibadah pun belum membuatnya tenang.
Dia terus berjalan, ia sudah mengenal dengan baik kelelahan, kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Semua itu telah menjadi teman perjalanan yang tidak lagi mengkhawatirkan. Dia melanjutkan perjalanan hidupnya yang sunyi.
Wajahnya tampak tenang padahal isi kepalanya ribut
Bibirnya terlihat tersenyum padahal hatinya menyimpan kerinduan yang lama dipendam
Tangannya sedang merangkul padahal dirinya membutuhkan kehangatan
Matanya terlihat bersinar padahal didalamnya ada air mata yang tertahan
Dalam beberapa tahun ini, waktu telah memberikan pengalaman pembelajaran baginya, kini iya tumbuh sedikit berbeda dari kehidupan perjalanan sebelumnya. Dia adalah aku dalam cerminan kehidupan.
👦 : Kamu apa kabar?
👩 : Aku baik-baik aja.
Sudah menjadi rahasia umum, pertanyaan apa kabar selalu dijawab dengan sedikit kebohongan, padahal it's oke banget ketika mengakui kalo sedang tidak baik-baik saja.
Saat ini sebisa mungkin aku tidak depresi karena terlalu mendengarkan perkataan orang lain. Sebisa mungkin aku tidak tertekan dengan ekspektasi orang lain dan masalah hidup yang harus aku selesaikan satu per satu. Aku harus mempersilahkan diriku untuk menangis jika memang aku sedang bersedih dan teluka. Aku harus membiarkan diriku beristirahat jika memang diriku sudah lelah dan mencapai batas. Aku ingin hidup tenang, aku mulai dengan mencoba memaafkan diriku sendiri, memaafkan segala kesalahanku dimasa lalu. Lalu aku memaafkan semua orang yang membuatku sakit, sedih, teluka dan kecewa.
Aku ingin hidup baik-baik saja. Tidak benci dengan siapapun. Tidak pula dibenci oleh siapapun.
Aku percaya dengan takdir. Aku percaya dengan janji yang semesta berikan.
Fokus untuk menjadi baik. Berbuat baik dan mendekati hal-hal baik.
Namun, aku masih tumbuh menjadi orang yang takut untuk percaya lagi. Tapi, bukan karena menganggap bahwa semua orang jahat. Aku hanya takut merasakan sakitnya untuk dikhianati dan dikecewakan lagi. Masih butuh waktu, bukan untuk melupakan kejadian lalu tapi lebih kepada menerima segala hal yang terjadi. Bertemu dengan sosok baru, dan mencoba memberanikan diri, meyakinkan diri sendiri “kali ini tidak akan salah”. Berkali-kali aku menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang baik, dan aku tak perlu takut akan perihal apapun. Tapi lagi-lagi aku gagal, dan berakhir menjadi manusia yang berhati dingin, hambar akan emosional apapun itu.
Masih arogan dengan prinsip yang membersamainya selama ini menjadikan aku seseorang yang malas untuk mendramatisir perihal asamara. Jika memang tidak cocok. Yasudah. Jika memang harus sendiri dulu, ya ga jadi masalah juga. Aku yakin bahwa aku tidak usah terlalu mencari. Dirinya yang tepat akan datang sendirinya. Aku fokus saja pada apa yang ingin kuraih. Tujuanku. Mimpiku. Karirku. Ambisiku. Aku yakin semesta akan membantuku, untuk menemukan dirinya yang tepat. Sosok yang menjadikanku satu-satunya. Sosok yang mampu menerima diriku dengan segala ambisi, mimpi, sifat, keluarga, kepercayaan dan karirku.
Aku percaya bahwa semesta akan membantuku dengan takdir yang menyamar menjadi kebetulan. Aku akan dikenalkan dengan seseorang lewat kebetulan, kebetulan yang saling terkait. Membuat perasaanku yakin bahwa dia orangnya.
Aku lupa akan satu hal, terkadang kita ga pernah tahu kepada siapa hati ini akan dijatuhkan. Kemudian kepada siapa hati ini akan dipatahkan. Hari-hariku menjadi kembali berwarna padahal tadinya aku abu-abu, senang bisa menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluh kesahmu, senang pernah menjadi jalan keluar terbaik dari setiap masalah yang kamu hadapi. Hadirku selama ini mungkin hanya akan menjadi pelengkap dalam sejarah kehidupanmu.
Aku senang bisa menatapmu malam itu.
Terimakasih sudah pernah menjadikanku sebagai tokoh utamanya.
Terimakasih karena pernah datang diwaktu yang tepat, tepat waktu aku sedang butuh pelukan
Terimakasih karena selalu bisa menenangkan sebelum akhirnya kita melangkah dijalan yang berbeda
Maaf kalo kadang aku bawel dan banyak maunya, salah satunya tentang meminta kamu untuk pergi
Bagiku merelakan adalah salah satu bentuk mencintai paling dalam. Aku tidak akan menangis jika suatu hari nanti kamu bertemu dengan seseorang yang memang sudah semestinya berada disampingmu. Aku akan jauh lebih bahagia, karena akhirnya seseorang tadi bukan aku. Aku tahu akan hal itu, bahwa aku tidak layak untuk menjadi yang selamanya.
Mencoba melihat segalanya lebih dekat dan menilai lebih bijaksana.
Tak perlu khawatir, aku masih percaya suatu saat aku akan menemukan rumah untuk pulang. Yeah, pulang bukan perihal kemana tapi kepada siapa.karena rumah bukan hanya sekedar tempat.rumah bisa dikatakan sebagai rumah ketika ada orang-orang yang membuatmu merasa aman dan nyaman didalamnya. Sayangnya, cerita kita hanya sebatas lembaran ini saja. Ku tahu kamu sedang berjuang. Tapi itu bukan untukku lagi.
Komentar
Posting Komentar